Selamat Ulang Tahun, Hesti (Part I)

(Cerpen ini didedikasikan khusus pada Madame Penyu sebagai hadiah ulang tahunnya September 2007 lalu. September 2007? Huhu saya tahu itu sudah sangat lama. Tapi maaf Madame, mengertilah bahwa tumpukan pekerjaan –serta pekerjaan sampingan– membuat cerpen ini sulit sekali rampung. Apalagi sebuah fiksi selalu membutuhkan mood yang belum pasti datang setiap hari. But Here it goes, bagian pertamanya).

Ha, aku ada di King’s Cross. Aku ada di King’s Cross.

 

 

HESTI tidak bisa menahan rasa senangnya. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan sejauh 275 kilometer dari Manchester ke London tidak lagi dirasakannya. Dia berteriak kegirangan, tidak perduli dengan pandangan heran orang lain.

 

 

Buat orang-orang itu, Stasiun Kereta Api King’s Cross yang terletak di Camden mungkin merupakan stasiun kereta biasa. Sebuah tempat yang biasa mereka kunjungi kalau ingin bepergian ke Manchester, Leeds, Newcastle, Aberdeen, dan kota-kota besar lainnya.

 

 

Tetapi buat Hesti, King’s Cross adalah tempat istimewa. Yang harus dia kunjungi saat menginjakkan kaki di tanah Inggris. Sebab Hesti adalah penggemar berat serial Harry Potter. Di kisah yang direka oleh JK Rowling itu, King’s Cross adalah salah satu tempat penting. Tempat dimana Hogwarts Express menunggu Harry dan siswa lainnya untuk diantar ke Hogwarts, tempat dimana mereka menuntut ilmu sihir.

 

 

Karenanya, jangan salahkan Hesti kalau berkunjung ke King’s Cross baginya tidak kalah penting dibanding berkunjung ke Istana Buckingham atau London Royal Opera House bagi wisatawan lain.

 

 

Sebenarnya dia sudah hampir satu minggu berada di Inggris, tetapi belum sempat berkunjung ke King’s Cross karena jadwalnya memang sangat padat. Ketika akhirnya sebuah hal yang harus diurus di Manchester selesai, Hesti sudah tidak sabar untuk pergi ke King’s Cross.

 

Perjalanan melalui kereta api akan menjadi sangat sempurna. Sebab selain aku akan langsung menuju King’s Cross, naik kereta api dari Manchester ke London merupakan napak tilas. JK Rowling mendapatkan ilham untuk Harry Potter di perjalanan yang sama.

 

Sekarang, Hesti benar-benar berada di King’s Cross. Dia merasa seperti bermimpi. Perjalanan hidup yang sekarang membawanya ke London pun masih dirasakan sebagai mimpi.

 

 

Dia masih ingat betul bagaimana perasaannya ketika menerima sepucuk surat dari British Council, yang menyatakan bahwa dia berhasil mendapatkan beasiswa Chevening untuk mengambil gelar master di bidang jurnalisme internasional di City University of London.

 

 

Bersekolah hingga jenjang strata dua sudah menjadi tekadnya sejak lama. Mendapat beasiswa, di London pula, baginya merupakan kenyataan indah yang tidak terbayangkan.

 

 

GoGirl, majalah tempatnya bekerja sebagai reporter selama tiga tahun terakhir pun mendukung penuh keberangkatannya. Selama belajar di London Hesti dijanjikan tetap mendapat gaji penuh. Yang harus dia lakukan hanyalah menulis satu atau dua artikel mengenai trend terbaru.

 

 

Tetapi saat ini Hesti samasekali tidak mau memikirkan artikel apa yang akan dia tulis. Dia juga tidak mau urusan sekolahnya mengganggu momen menyenangkan ini. Sebab dia ada di King’s Cross.

 

Oke, sekarang masuk ke menu utama. Aku harus berfoto di peron 9 ¾ .

 

 

Di kisah Harry Potter, peron 9 ¾ adalah pintu magis untuk memasuki dunia sihir. Hanya para penyihir yang bisa melihat eksistensi peron ini. Biasanya, Harry dan rekan-rekan penyihirnya masuk dengan cara berjalan cepat, menabrakkan diri menembus palang rintangan antara peron sembilan dan sepuluh. Di King’s Cross milik dunia sihir, telah menunggu sebuah kereta lokomotif berwarna merah. Kereta itu, Hogwarts Express, berangkat pukul 11 siang membawa para murid menuju Hogwarts.

 

 

Di dunia nyata, tentu tidak ada peron 9 ¾. Sama dengan fakta tidak ada sekolah sihir bernama Hogwarts, dan kereta berwarna merah yang mengantar ke sana. Tetapi buku Harry Potter sukses besar. Ia menjadi novel fiksi paling laris sepanjang sejarah penerbitan, mengantar JK Rowling menjadi penulis terkaya di dunia. King’s Cross pun kebagian ngetop. Dia menjadi tempat wisata yang wajib dikunjungi oleh para penggemar Harry Potter di seluruh dunia. Untuk memuaskan para turis itu, Pemerintah Kota London pun sengaja membangun peron 9 ¾ di King’s Cross. Yang langsung menjadi tempat favorit para wisatawan untuk berfoto.

 

 

Hesti, salah satu penggemar yang telah membaca tujuh seri Harry Potter, menonton empat filmnya dan punya tongkat sihir serta sapu terbang imitasi, tentu tidak mau ketinggalan berfoto di sana.

 

 

Dia telah menyiapkan kamera digital Canon EOS 30D SLRnya. Karena dia datang sendiri, tentu dia harus mencari orang lain yang bersedia memfotonya. Tetapi ini hari Selasa, pukul sembilan pagi kurang lima belas menit. Satu-satunya wisatawan di sana hanya dirinya. Sisanya adalah orang-orang setempat yang ingin berangkat kerja. Hesti ragu untuk mendekati satu diantara mereka karena hampir semua orang tampak terburu-buru.

 

Aku tidak ingin membuat mereka terlambat datang ke kantor mereka. Tampaknya aku harus menunggu satu jam lagi, dimana kemungkinan calon penumpang bukan orang yang memburu waktu.

 

 

Sambil menunggu, Hesti duduk di palang rintangan. Dia memundurkan tubuhnya untuk bersandar di tembok. Tetapi, tiba-tiba tubuhnya terjerembab ke belakang. Hesti jatuh menghujam lantai dengan punggung terlebih dahulu.

 

 

Seluruh tubuhnya terasa sakit. Isi tasnya berantakan di lantai stasiun. Hatinya bertambah kesal karena upayanya mengumpulkan kembali seluruh isi tasnya nyaris sia-sia karena puluhan anak-anak berlalu lalang di sekitarnya. Sebagian mereka bahkan berlari-lari sambil bercanda dengan temannya, dan menginjak sebagian barang-barang Hesti yang terjatuh.

 

 

Anak-anak sialan, lihat-lihat dong kalau berjalan. Tapi…. Darimana datangnya anak-anak ini? Bukankah sedari tadi isi stasiun ini hanya para pekerja yang terlalu sibuk untuk aku mintai tolong mengambil foto?

 

 

Dengan perasaan bingung Hesti melihat sekeliling. Dia masih di stasiun yang sama. King’s Cross di London. Tetapi suasananya jauh berbeda. Stasiun menjadi sangat riuh oleh ratusan anak-anak yang hampir semuanya membawa koper dan didampingi oleh orang tua mereka.

 

 

Asap lokomotif melayang di atas kepala orang-orang yang mengobrol, sementara kucing-kucing dalam berbagai warna menyusup-nyusup di antara kaki mereka. Burung-burung hantu saling bersahutan, ditingkahi suara obrolan dan derit koper-koper berat yang setengah diseret.

 

 

Masih takjub dengan pemandangan itu, Hesti seakan kehilangan nafasnya ketika memandang rel di tepi peron yang penuh orang. Di sana ada kereta api berwarna merah menyala, dengan tulisan di atasnya: Hogwarts Express, pukul 11.00.

 

 

Hesti mulai menyadari dimana dia berada, dan dengan takut-takut mengalihkan pandangannya ke gerbang melengkung di tempat yang tadi dia duduki. Ya Tuhan, ternyata benar. Peron Tiga Perempat.

 

Hesti tidak habis pikir bagaimana dia bisa berada di sini. Ini adalah peron tiga perempat di Stasiun King’s Cross. Bukan peron tiga perempat yang sengaja dibangun Pemerintah Kota London sebagai tempat parawisata. Tetapi peron tiga perempat yang menjadi tempat para siswa berangkat ke Sekolah Hogwarts dalam cerita Harry Potter.

 

Akal sehat Hesti segera bekerja. Pasti ada alasan yang masuk akal untuk ini. Ini pasti mimpi. Atau aku sedang pingsan akibat jatuh saat duduk di palang rintangan tadi.

 

Lalu dia cepat-cepat mencubit tangannya sendiri dan langsung mengaduh kesakitan. Sakitnya nyata. Aku bukan sedang bermimpi atau koma.

 

Tidak kuasa menemukan jawaban kenapa ia bisa berada dalam dunia yang selama ini dikenalnya lewat kisah Harry Potter, Hesti memberanikan diri untuk menjelajahi keadaan sekitar. Apalagi tiga tahun terakhir insting dan rasa ingin tahu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam dirinya sebagai wartawan.

 

 

Dia melongok ke dalam Hogwarts Express melalui jendela-jendela. Rangkaian beberapa gerbong yang berada di depan sudah penuh anak-anak. Beberapa diantaranya menjulurkan tubuh keluar jendela untuk mengobrol dengan keluarga mereka, yang lain sibuk berebutan tempat duduk.

 

 

 

Hesti melewati orang-orang yang berdesakan sampai dia tiba di gerbong hampir di ujung kereta. Dia berusaha keras untuk tetap kelihatan tenang meski sepanjang peron hatinya meletup-letup penuh gairah. Seperti saat ini, tanpa disadari dia berteriak kecil: “Itu Neville. Neville Longbottom!” saat melihat seorang anak berwajah bundar yang dengan nada sedih berkata kepada neneknya, “nek, katakku hilang lagi.”

 

 

Beruntung baik Neville maupun nenek tidak mendengarnya. Teriakannya memang tidak keras, dan hanya terdengar oleh dua remaja yang kebetulan sedang berjalan di belakangnya.

 

 

Saat Hesti menoleh dua remaja berwajah mirip itu hanya tersenyum jail dan salah satu diantaranya berkata: “Baru kali ini kami melihat ada gadis yang begitu bersemangat melihat Neville.”

 

 

Beruntung dua remaja kembar yang keduanya berambut merah itu kemudian terus berjalan mendahuluinya tanpa menoleh lagi. Karena saat itu Hesti tidak bisa lagi menutupi rasa bahagianya yang meluap-luap. Hesti mengenali dua remaja itu sebagai Fred dan George, tokoh yang menjadi favoritnya dari seluruh karakter di Keluarga Weasley.

 

Hesti berdiri mematung mencoba mengatur nafasnya. Dia seakan kaku tidak bisa berfikir dan bertindak selain memandangi punggung George dan Fred yang berjalan menjauh sambil tertawa-tawa riang. “Tidak mungkin. Aku bertemu langsung dengan George dan Fred. Dan mereka menyapaku.”

(*TO BE CONTINUE, IF I CAN FIND SOME MORE SPARE TIME)



& Komentar »

  1. penyuuuuuuuu Said,

    Februari 20, 2009 @ 23:18

    X seharusnya kan aku yang pertama membaca tetapi kenapa kau tunjukan pada dunia huhuhuhuhuu. Awas yaa kalau lanjutan jadi lama.

    ========
    Huhu gapapa, justru statemennya kan makin kuat kalau diteriakkan di depan publik.

  2. Murid Said,

    Februari 22, 2009 @ 04:15

    Selamat Ultah dech….

  3. babacilukba Said,

    Februari 23, 2009 @ 15:07

    Mr. X, aku pesen juga yaaa buat ulang tahunkuuu bulan agustus bsk… awas lho klo jadinya jelek…

    ————————————————–
    Mintanya sama Mr Y dong, huhuhuhu

  4. ruanghati Said,

    Februari 23, 2009 @ 19:11

    Wes … asik banget nih cerita …
    Ayo dong lanjutin cepet … duh … gak tahan nih nunggunya …

    ———————–
    Thanks, updatenya seminggu sekali, diusahain tapinya huuhuhu

  5. 'dee Said,

    Februari 23, 2009 @ 22:10

    ha ha ha… benar2 tersihir harry potter rupanya, fans berat banget ya?
    happy belated birthday!

    d.~

  6. Daus Said,

    Februari 24, 2009 @ 17:43

    Berbakat lo Mat, hehe…

  7. tonosaur Said,

    Februari 25, 2009 @ 21:06

    coba dicek dulu..
    hmm..

  8. depz Said,

    Februari 26, 2009 @ 09:22

    hmmmm

  9. julie Said,

    Februari 26, 2009 @ 11:09

    wahhh bisa ngalahin novel harry potter neh seru banget
    ayo donk lanjutin lageee

  10. Tukang Nggame Said,

    Februari 27, 2009 @ 00:14

    langsung dicari penerbit

  11. penyuuuuuuuu Said,

    Maret 3, 2009 @ 19:05

    Kenapa belum ada sambungannya X?

  12. weezz Said,

    Maret 5, 2009 @ 11:05

    Huhuhu… aku ngiri sama kamu penyuu… dapat hadiah ulang tahun yang sangat spesial… anywayy, harry Potter-nya kokk belom nongoll?? jangan kelamaan.., en make it special yaa… hehehe… request…

  13. penyuuuuuuuu Said,

    Juni 8, 2009 @ 10:06

    Rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrgh kok gak ada sambungannya seeeh

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment